Friday, March 11, 2011

Ketika Belanja Menjadi Simbol Status

Salah satu jurus retailer untuk menciptakan crowd dan hype untuk berbelanja adalah dengan Midnight Sale. Jalanan macet berat karena orang-orang mulai membanjiri mal sejak pukul 8. Proses memilih barang menjadi keasyikan tersendiri sebelum diskon mulai berlaku pada jam yang ditentukan.

Rangkaian panjang meliuk-liuk di beberapa lantai mal menunjukkan sepatu Crocs sedang sale. Begitu lama dan panjangnya proses antrian ini sehingga di akhir baris, mereka yang kehabisan terpaksa puas membeli pesona sandal dan sepatu karet dengan warna dan ukuran berbeda.

Pembukaan Ace Hardware terbesar di Living World mall, dibanjiri ribuan orang membeli segala macam perkakas dan peralatan rumah tangga yang kita tidak tahu tadinya bahwa kita membutuhkannya sampai kita datang dan melihatnya.

Ternyata harga masih selalu menjadi daya tarik agar kita datang untuk berbelanja. Tidak afdol rasanya jika ada tawaran barang yang demikian bagusnya dan kita tidak menjadi bagian dari konsumen yang memanfaatkan tawaran tersebut. Rasionalisasi berbelanja menjadi justifikasi bahwa barang yang kita beli mungkin akan kita gunakan nantinya. Ini adalah gaya hidup urban di mana terjadi penciptaan ‘false need’ melalui tawaran-tawaran menarik dan harga. Tawaran itu mengubah barang ‘keinginan’ seolah-olah menjadi ‘kebutuhan’

Warteg di dekat kantor saya, menampilkan Twitter yang berisi menu harian spesial karena kantor saya penuh dengan mereka yang bekerja di dunia dotcom. Pengusaha steak dan burger membangun follower Twitter dan menawarkan diskon bagi mereka yang membawa pesan singkat berisi penawaran khusus tersebut.

Tagging barang di Facebook dilakukan oleh para penjual kepada orang-orang yang berpotensi membeli barangnya. Hanya dengan berbekal koneksi Internet, proses belanja berlangsung melalui wall di Facebook, telepon dan proses transfer. Harga di bawah Rp 200.000 menjadi batas psikologis untuk berbelanja fashion tanpa mencobanya. Kalaupun barang yang diterima tidak memuaskan, apalah artinya dibanding proses mengasyikkan menanti barang diterima dan dicoba pertama kalinya. Jika memuaskan, tentu adalah saat yang tepat untuk berbelanja yang kedua kalinya.

Cottonink, brand fashion paling menjanjikan di Jakarta Fashion Week, bermodalkan desain simple dan warna-warni chic menawarkan bagaimana desain yang sederhana digunakan dalam berbagai kesempatan dengan beragam cara melalui video di Youtube. Desain kain persegi akhirnya memiliki ragam aplikasi yang tadinya tidak terpikirkan. Kebutuhan aksesoris fashion baur dengan penciptaan ‘desire’

Era produksi masal di mana barang yang dibeli berdasarkan kebutuhan sudah lewat. Kini konsumen memiliki banyak pilihan barang. Kini adalah era informasi di mana media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses berbelanja. Sangat tepat untuk menyampaikan berita dan cerita tentang barang yang dijual sebelum proses transaksi terjadi.

Saat ini konsumen adalah raja. Mereka yang menentukan pilihan. Tetapi definisi kebutuhan dan keinginan menjadi baur. Barang kebutuhan sumir dengan barang keinginan akibat tambahan nilai-nilai lain, seperti pengaruh media, pengaruh teman, permainan harga dan banyak lagi.

Di era konsumerisme, pembelian barang mendefinisikan gaya hidup konsumen itu sendiri. Bahkan pada status sosial tertentu di mana penghasilan tidak lagi menjadi masalah, kepemilikan atas barang dan eksklusivitas merk mendefinisikan status sosial si konsumen. Terjadi perubahan ‘ownership’ menjadi ‘identity.’ Itulah konsekuensi logis dari era konsumerisme.

ditulis untuk mata kuliah Creative Industry pada program pasca sarjana Creative & Media Enterprise di IDS|International Design School (www.idseducation.com)

No comments:

Post a Comment